animasi





tinggal ketik untuk mencari data

Jumat, 10 Januari 2014

MAROKO


1.      LETAK GEOGRAFIS MAROKO
 
Morocco map
A.    PENDUDUK
®    Jumlah : 25.380.000 (1989)
®    Kepadatan Penduduk : 57 jiwa per ,
®    Suku : Arab Berber 99 %.
®    Bahasa : Arab , Berber, Perancis, dan sedikit Spanyol.
Maroko sendiri salah satu dari 22 Negara Arab yang tergabung dalam Organisasi Liga Arab yang bermarkas di Cairo, Mesir. Negara ini terletak persis di ujung utara benua Afrika dan berbatasan di sebelah utara dengan laut tengah, sebelah timur dengan aljazair, sebelah selatan dengan Mauritania dan sebelah barat dengan Samudera Atlantik. Letak Maroko yang sangat strategis di perairan Samudera Atlantik dan Laut Tengah menyebabkan Negara ini menjadi incaran kaum imperialis barat.
Maroko mempunyai empat ibu kota: Rabat, ibu kota adminitrasi, Casablanca, ibu kota perdagangan dan perindustrian, Marrakech, ibu kota wisata dan Fes, ibu kota budaya dan ilmu pengetahuan.
Mayoritas rakyat Maroko (99%) memeluk agama Islam, selebihnya memeluk agama Yahudi dan Nasrani. Jumlah rakyat Maroko sekitar 30 juta jiwa. Bahasa resmi Negara adalah bahasa Arab, sedangkan bahasa keduanya adalah bahasa Perancis, Spanyol dan Barbar. Walaupun bahasa Perancis merupakan bahasa kedua, namun penggunaannya, baik di bidang administrasi Negara maupun sebagai bahasa pengantar pendidikan, kadangkala melebihi bahasa resmi, yaitu bahasa Arab.
Sistem Pemerintahan Maroko menganut sistem monarki konstitusional. Tahta kerajaan merupakan warisan turun temurun yang dipegang oleh Dinasti Alwiyah. Raja sebagai Kepala Negara diba’iat sebagaimana layaknya system khilafah dan diberi gelar Amirul Mukminin yang mengisyaratkan sebagai pemimpin umat Islam di Maroko. Roda pemerintahan dijalankan oleh Kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri yang diangkat oleh raja. Maroko mempunyai parlemen yang terdiri dari majelis rendah yang dipilih melalui pemilihan secara langsung dan majelis tinggi yang dipilih secara tidak langsung.
B.     KEADAAN ALAM
®    Luas : 446.550 km2.
®    Letak : di barat laut Afrika.
®    Batas Negara : Sahara Barat di sebelah Selatan, Aljazair di Timur.
®    Topografi : Wilayahnya terdiri dari 5 bagian, yaitu pegunungan, lahan subur di barat, tanah lumpur di barat daya, lahan pertanian di tengah, dan Gurun dekat Sahara.
Walaupun letak Maroko di benua Afrika, alamnya tak jauh berbeda dengan wilayah asia yang subur, hijau dan terdapat perngairan di mana-mana. Sehingga tak jarang pelancong dari manca negara tercengang melihat kesuburan tanah Maroko yang dipenuhi dengan pepohonan dan penghijauan di segenap wilayah. Pemerintah Maroko juga memberikan perhatian yang cukup besar terhadap usaha penghijauan wilayah. Bahkan boleh dikatakan, di antara Negara-negara Arab dan Afrika, Maroko termasuk Negara pertanian terkemuka dan unggul.
Kota-kota penting di Maroko umumnya berada di wilayah pesisir, seperti Tanger, Tetouan (baca: tetwan), Nador, Oujda (baca: wujda), Casablanca, Rabat, Safi, es-Soiurah dan Agadir. Sebagian berada di sekitar Pegunungan Atlas, seperti Fes, Marrakech, Meknes dan Ifran. Letak geografis masing-masing kota tersebut sangat mempengaruhi keadaan suhu dan cuaca setempat. Misalnya pada puncak musim dingin, daerah pesisir umumnya berada pada suhu maksimal 5 o C sedangkan daerah pegunungan dan pedalaman melewati angka 0 o c hingga -10 o c yang ditandai turunnya salju di beberapa kota seperti ifran. Demikian juga sebaliknya pada puncak musim panas, suhu daerah pesisir berkisar antara 25 o c – 29 o c, sedangkan daerah pedalaman dan pegunungan, kadangkala melebihi angka 50 o c. namun di balik itu, daerah pedalam dan pegunungan umumnya memiliki udara yang bersih dan sehat dibandingkan dengan daerah pesisir. Maroko mengenai empat musim yaitu musim dingin, musim semi, musim panas dan musim gugur.Menurut sejarah, sebelum bangsa Arab masuk dan membawa Islam di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi’ pada pertengahan abad pertama hijriyah, Suku Barbar sudah berada di Maroko yang kemudian terbagi menjadi tiga suku, yaitu: Amazigh, Syilha dan Rifi. Ketiga suku ini memiliki bahasa dan dialek tersendiri dan diakui oleh pemerintah Maroko.
Dilihat dari urutan sejarah di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa rakyat Maroko merupakan perpaduan berbagai suku yang intinya ada dua, yaitu Suku Barbar dan Suku Arab. Suku Barbar kebanyakan mendiami wilayah bagian selatan (Marrakech, Agadir, Ouarzazat dan sekitarnya), dan sebagian lagi di utara (Tetouan, Nador dan sekitarnya).
C.     PEREKONOMIAN
®    Industri : Karpet, pakaian jadi, barang – barang dari kulit, dan Pariwisata.
®    Hasil Bumi : beras, buah – buahan, dan Anggur.
®    Hasil Tambang : antimony, kobalt, mangan, fosfat, minyak dan batu bara.
®    Daerah Subur : 18 %
Perekonomian Maroko, sebagaimana terlihat jelas dengan tingginya tingkat ekspor hasil pertanian Maroko ke berbagai Negara eropa dan timur tengah. Di samping itu, peran sektor perikanan juga tidak dapat disisihkan dalam menambah devisa Negara, mengingat sebagian besar wilayah Maroko berada di pantai Samudera Atlantik dan laut tengah.
Dalam sektor wisata pun Maroko boleh dikatakan unggul. Ini terbukti dengan banyaknya obyek wisata yang menarik minat pelancong dari Eropa, Asia maupun benua lainya. Di antara objek wisata tersebut adalah pantai indah yang berada di pinggiran kota-kota pesisir seperti: pantai pelaya di Tanger, pantai Ashila, pantai Mehdia di Kenitra, pantai Agadir yang dikenal dengan penjara di tengah lautnya, dan banyak menyimpan kesan di benak para pelancong dengan fasilitas kafe dan restoran di pinggir pantai serta fasilitas lainnya. Di samping itu ada juga obyek wisata air terjun yang ada di Sopro, Fes dan Khribga. Serta sumber air panas ainullah, fes. Obyek wisata lain yang terdapat di kota Fes ataupun di Jami’ Alfena di Marrakech.
Demikian pula tempat-tempat yang bernilai sejarah seperti Goa Hercules di Tanger, Penjara Portugis di Safi, Jami Quaraouyine (baca: qarawiyyin) di Fes. Volubilis versi nama Itali dan Walili versi nama Maroko, terletak di sebelah utara kota Meknes, sebagai kota bersejarah peninggalan Pemerintahan Romawi Kuno di Maroko, Volubilis tetap terjaga keaslian dan kekunoannya. Dan benteng-benteng kokoh bercat merah kekuningan yang dapat disaksikan di setiap kota di Maroko. Begitu juga perkampungan unik yang menyimpang nyanyian gurun sahara di Ouarzazat, sebelah selatan kota Marrakech.
Dari sejumlah obyek wisata yang terdapat di Maroko, tidak dapat dilupakan sebuah warisan yang paling dibanggakan yang dibangun di zaman raja Hasan II, yaitu mesjid hasan II yang terletak di kota casablanca. Mesjid ini memiliki bangun megah, bahkan termegah ketiga di dunia setelah haramain (masjidil haram dan masjid nabawai), dan dapat menampung lebih kurang 100.000 jamaah serta selalu dipakai untuk acara keagamaan kerajaan, seperti peringatan Maulid Nabi.
Dalam sektor industri, Maroko juga dikenal sebagai negara penghasil fosfat terbesar di dunia. Pabrik fosfat yang berada di kota Shafi merupakan penopangan terpenting ekonomi negara setelah pertanian. Juga tidak dapat dilupakan, keberadaan pelabuhan-pelabuhan laut internasional yang berada di beberapa kota pesisir seperti Safi, Tanger, Mohammedia dan Casablanca yang telah banyak menyumbangkan devisa bagi Maroko. Bahkan boleh dikatakan, pelabuhan kapal casablanca merupakan yang terbesar di wilayah Afrika Utara. Menurut statistik ekonomi Maroko tahun 1999, Maroko telah memililki income perkapita sebesar US$ 1300. dan di bawah pemerintahan raja mohammad VI yang naik tahta yang cukup berarti. Hal ini terbukt dari berbagai proyek dan perencanaan pembangunan yang dicanangkan pemerintahan dengan berbagai negara yang tergabung dalam Uni Eropa.

2.      SEJARAH 

Kata “Maroko” berasal dari “Marrakech” yaitu nama salah satu kota di selatan Maroko. Dalam bahasa Arab, Maroko disebut dengan al-maghrib yang artinya “wilayah bagian barat atau tempat terbenam matahari, sedangkan al-maghrib al ‘arabi adalah kaukus Negara-negara afrika bagian utara yang terdiri dari aljazair, Tunisia, libya, Mauritania dan Maroko. Kelima Negara tersebut telah membentuk persatuan magrib arabi (Union du magebeinne arabe {UMA}).
Terdapat bukti arkeolog yang kuat bahwa Maroko pernah dihuni oleh manusia gua dari zaman batu. Mereka meninggalkan banyak jejak atas kehadiran mereka. Sekitar tahun 2.000 tahun sebelum masehi, bangsa Berber tiba di daerah itu dan bermukim disana. Bangsa Funisia tampil di daerah itu sekitar abad ke-11 sebelum masehi, yaitu ketika mereka mendirikan beberapa pos perdagangan di pantai laut tengah. Kemudian bangsa Kartaginia mendirikan pusat perdagangan di wilayah pantai Maroko di laut tengah dan Atlantik. Setelah terjadi serangkaian peperangan yang bersejarah, bangsa Kartaginia akhirnya digilas oleh bangsa Romawi. Dari abad ke-1 sebelum masehi – abad ke-5 masehi lahan itu menjadi sebuah propinsi Romawi. Pengaruh Romawi bahkan berlangsung lebih lama dari pada bangsa Vandal Germanik, yang bergerak melalui daerah ini sebelum menaklukan Italia Selatan sampai hari ini reruntuhan Romawi masih dapat dilihat di bagian utara Maroko. Selama abad ke-2 dan ke-3 Masehi, Volubilis, yang terletak di kaki bukit Zerhoun. Pada pertengahan abad ke-7 kaum muslimin Arab menyerang dari timur. Sebagian kecil dari angkatan perang arab ini bermukim di Maroko. Namun, penyerang Arab berikutnya pun terjadi dan diawal abad ke-8 orang Arab itu menduduki wilayah itu. Bangsa Berber tetap mepertahankan jati diri mereka selama penyerbuan itu meskipun akhirnya mereka menerima agama Islam. Namun, mereka menerima agama itu setelah mengadakan perubahan yang sesuai dengan cara hidup tradisional mereka. Orang Berber kemudian bergabung dengan angkatan perang Arab alam menaklukkan sebagian Spanyol, yang pertama kali mereka serang pada tahun 711. Menjelang akhir abad ke-8, Idris I, seorang keturunan Nabi Muhammad, mendirikan dinasti Islam yang pertama di Maroko. Anaknya, Idris II, mendirikan kota Fez, yang menjadi terkenal sebagai pusat agama dan kebudayaan Islam.
            Kekaisaran Maroko Raya pertama didirikan oleh suku Almoravid di abad ke-11. Sebagai penunggang kuda yang andal dan manggala perang yang tangguh, suku Almoravid menyerang Maroko dari seberang gurun. Mereka mendirikan ibu kota kerajaan di Marrakesh. Pengaruh Almoravid mencapai mencapai timur sampai ke Tunisia dan ke utara sampai ke Spanyol sehingga mengikat lebih erat sejarah Spanyol dan Maroko. Namun, dalam abad-abad berikut maroko secara bertahap kehilangan daerahnya yang jauh. Spanyol dan Portugal menyerang negeri itu. Mendirikan permukiman berbenteng. Dan menduduki beberapa pelabuhan Maroko. Pada abad ke-16, bangsa Maroko mampu menggalang kekuatan yang memadai untuk mengusir para penyerang sejak akhir abad ke-17 sampai awal abad ke-19 Maroko bertahan sebagai negara yang sama sekali bebas dari pengaruh asing.
Setelah Prancis berhasil menduduki kota Aljier pada tahun 1830, perhatian dari kekuatan imperialis Eropa terjaga. Prancis, Spanyol, Inggris, dan kemudian Jerman mempunyai ambisi untuk daerah dan pengaruh ekonomi. Dengan letaknya yang hanya 14 km dari Gibraltar dan menguasai pintu masuk barat ke laut tengah. Maroko memiliki nilai strategis yang menguntungkan sehingga akhirnya negeri itu justru jatuh kebawah kekuasaan berbagai kekuatan imperialis tersebut.

3.      PERMASALAHAN DI MAROKO

a.       Latar Belakang Krisis Maroko I
Krisis Maroko Pertama (juga dikenal sebagai Krisis Tangier) adalah krisis internasional atas status internasional Maroko antara Maret 1905 dan Mei 1906. Maroko terletak di Afrika bagian utara sebelah barat, letaknya sangat strategis di selat Gibraltar dan berhadapan langsung dengan Spanyol bagian selatan. Selat ini satu-satunya pintu masuk-keluar dari dan ke Laut Tengah. Dari abad ke 17 sampai awal abad 19 Maroko mampu bertahan sebagai negara berdaulat.       
            Letak Maroko yang sangat strategis ini pada akhirnya justru telah menjadi incaran bagi Negara-negara Eropa yang tengah gencar-gencarnya meluaskan kekuasaan khususnya di wilayah Afrika, apalagi Maroko begitu dekat dengan Eropa. Spanyol sebagai negara Eropa yang terdekat wilayahnya dengan Maroko mencoba mengirimkan pasukannya ke Maroko tetapi dapat di halau oleh Inggris. Pada prinsipnya Inggris tidak menginginkan adanya kekuasaan permanen siapapun di Maroko, karena bagaimanapun penguasaan Maroko oleh satu kekuatan Barat tertentu akan dapat memicu bagi terjadinya krisis Internasional.
            Sebaliknya Perancis justru sangat berkeinginan untuk menguasai Maroko, meskipun Jerman sejak 1873 sudah menempatkan perwakilannya di Maroko. Itulah sebabnya ketika Perancis mendirikan pangkalan militer di Fez maka Negara-negara Eropa ramai-ramai melakukan protes. Maka untuk menghindarkan konflik yang lebih besar, diadakanlah suatu konvensi yang membahas masalah Maroko pada tahun 1880, yang dihadiri oleh 15 negara Eropa dan Amerika Serikat di Madrid. Hasilnya “Status quo Sultan Maroko harus dipertahankan dan Maroko tetap menjalankan politik pintu terbuka”. Sejak itu maka banyak Negara yang berlomba menanamkan modal di Maroko.
            Mundurnya Perancis dari Fashoda (dalam kriris Fashoda) bagaimanapun merupakan tamparan dahsyat bagi Perancis, dan jelas negara ini pun tidak bisa melupakannya begitu saja, demikian pula kekalahan yang dirasakan setelah mundur dari Suez pada saat terjadinya perang melawan rakyat Mesir. Kekalahan demi kekalahan yang diderita Perancis, tentu membutuhkan suatu tirai untuk menyembuhkannya. Maka hal yang paling tepat yang dapat dilakukan Perancis, adalah menduduki Maroko. Kalau Inggris telah menduduki pintu keluar menuju India yaitu Suez, maka Perancis seharusnya dapat menguasai pintu masuk yaitu Maroko. Disaat Inggris sibuk menghadapi perjuangan bangsa Boer di Afrika Selatan, maka Perancis secara diam-diam melakukan perjanjian dengan Italia yang isinya “Italia tidak keberatan apabila Perancis di Maroko, sebaliknya Perancis juga tidak akan menghalangi keinginan Italia di Tripoli dan Cyrenaica”. Perjanjian ini di ratifikasi pada tahun 1902 dengan memasukkan “apabila salah satu Negara diserang musuh maka yang lain akan bersikap netral”.          
b.      Krisis Maroko 1
Maroko terletak di Afrika Utara sudut barat, disebelah selatan Jabaltarik. Tanahnya subur, kaya akan baja dan besi, iklimnya menyenangkan, letaknya strategis dan memiliki bandar-bandar yang baik.Daerah luas itu diperintah oleh seorang Sultan dengan sebutan Sherif. Banyak kaum kapitalis Barat menanamkan modalnya dinegeri tersebut. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, maka negeri-negeri Barat bersaingan dalam menanamkan kekuasaannya. Spanyol karene alasan historis, pada 1859-1860 mengirimkan angkatan perangnya, tetapi dikembalikan oleh Inggris. Prancis ingin mendapatkan Maroko untuk memperluas imperiumnya, Inggris karena alasan-alasan strategi dan menghendaki agar di Tanger tidak didirikan benteng-benteng, sedang Jerman sejak 1873 telah memiliki perwakilan di Istana Sultan.
Berhubung semua negara tersebut mempunyai kepentingan di Maroko, maka semua negara tidak menghendaki apabila salah satu diantaranya dapat menguasai negeri tersebut. Oleh sebab itu kedaulatan Sultan tetap terjamin. Tetapi pada 1878, ketika Prancis mendirikan pangkalan militer di Fez, sehingga membuat negara-negara barat lainnya khawatir Prancis dapat menguasai Maroko. Mereka menuntut diadakannya suatu konvensi untuk menentukan nasib Maroko. Pada 1880 empat belas negara-negara Eropa beserta Amerika Serikat berkumpul di Madrid dan konvensi ini memutuskan bahwa status quo Sultan Maroko harus dipertahankan dan negeri itu harus menjalankan politik pintu terbuka. Sejak itu makin banyaklah modal Barat yang masuk ke Maroko.
Persaingan diantara mereka makin hebat, sehingga Maroko merupakan tempat yang sangat berbahaya dalam gelanggang politik internasional. Persaingan Prancis dan Jerman dinegeri ini akan dapat mengancam perdamaian dunia, khususnya bagi Eropa. Sesudah mengalami kekalahan dalam menghadapi masalah Fashoda, Menteri Luar Negeri Prancis Delcase ( 1898-1905) berusaha menaikan prestise negerinya dengan menumpahkan perhatiannya ke Maroko. Prancis menggunakan kesempatan yang baik itu, sewaktu Inggris sedang sibuk dengan urusan Afrika Selatan sedang Italia dan Prancis telah ada pendekatan-pendekatan.
Maka selain memperkuat tentaranya, Prancis juga mengadakan perjanjian-perjanjian. Pada 1900 tercapailah perjanjian Prancis dengan Italia yang berisi antara lain Italia tidak mempunyai kepentingan di Maroko. Sebaliknya tidak punya kepentingan di Tripoli dan Cyrenaica. pendekatan Italia pada prancis ini disebabkan karena kegagalan usaha Italia untuk menguasai Afrika Timur Laut.Pada 1902 tercapailah lagi perjanjian antara Prancis dengan Italia. Isinya antara lain :
1.      Prancis bebas bertindak di Maroko, sebaliknya Italia bebas bertindak di Tripoli
2.      Jika salah satu dari dua negara tersebut diserang musuh, yang lain akan tatap bersikap netral.
Tindakan Italia ini disebut “extra tour” dan mengakibatkan selesainya riwayat Triple Alliance. Pada tahun itu juga Prinetti, Menteri Luar Negeri Italia menolak pembaharuan Triple Alliance. Prancis juga mengadakan perjanjian dengan Spanyol, yang berarti memperkuat kedudukan Prancis di kontinen dan akan membahayakan Jerman. Isi perjanjian tersebut membagi Maroko menjadi daerah-daerah pengaruh antara kedua penguasa itu. Spanyol mendapat pantai utara, termasuk Tanger dan Fez dan sebagian lagi disebelah selatan. Prancis mendapat sisanya. Tetapi ketika di Spanyol ada pargantian kobinet baru itu tidak berani melanjutkan hubungan baik dengan Prancis karena takut kepada Inggris, maka perjanjia Prancis-Spanyol itu tidak ada artinya.
Pada 1902 Inggris meninggalkan politik spendid isolation. Perjanjian persekutuan Inggris-Jepang ditandatangani. Persekutuan ini oleh Inggris ditujukan untuk bersama-sama menghadapi kekuasaan Rusia di Asia Timur. Tetapi Inggris juga insyaf bahwa sangat berat jika ia harus mnghadapi lawan-lawannya yang sesama negara Barat, yaitu Jerman, Prancis dan Rusia. Oleh sebab itu ia harus memilih pihak. Dengan Jerman tidak mungkin diadakan persekutuan, kerena keduanya bersaingan dalam masalah Afrika Selatan, perebutan kekuasaan dilautan dan proyek jalan kereta api Bagdad.
Pada 1903 Raja Edward VII,  pengganti Ratu Victoria, bersikap lain condong pada Prancis dari pada Jerman. Prancis mula-mula ragu-ragu, sebab persekutuan dengan Inggris akan berakibat melemahkan persekutuan Prancis-Rusia dan akan mengakibatkan munculnya kembali Dreikaiserbund. Tetapi akhirnya Prancis menerima usul Inggris untuk menghentikan pertentangan antara Inggris dan Prancis dikoloni-koloni. Pertikaian, pertentangan di Newfoundland, di Afrika Barat dan Afrika Tengah dapat diatasi. Pertentangan Inggris, penguasaan Prancis terhadap Maroko dalah sangat berbahaya, karena letaknya berhadapan dengan Jabaltarik. Disamping itu juga karena itu mnyukarkan Inggris dalam mengawasi Laut Tengah. Dengan demikian Inggris menhendaki supaya jangan ada negara lain yang menguasai daerah yang letaknya dihadapan Jabaltarik.
Pada 1903 Delcase mengunjungi London. Masalah Mesir dibicarakan dan berhasil dapat mengatasi segala kesulitan pada tahun berikutnya terjadi perang antara Rusia dan Jepang. Dalam hal ini Prancis bersikap netral, tidak membantu Rusia. Dua bulan kemudian tercapailah suatu perjanjian antara inggris dan prancis yang terkenal dengan nama Morocco Egyptian Agreement atau Entente Cordiale (1904), isinya: “Prancis melepaskan kepentingannya di Mesir sebaliknya Inggris tidak berkeberatan jika prancis menanamkan kekuasaannya di Maroko, selain daerah pantai utara yang akan diserahkan kepada spanyol, negeri yang tidak kuat. Tidak boleh ada benteng didirikan di depan Jabaltarik. Semua pertentangan antara Inggrius dan Prancis baik mengenai urusan ekonomi maupun koloni diakhiri. Kedua negeri tersebut akan saling bantu membantu.”
Pada 1904 itu juga Prancis mengadakan perjanjian dengan Spanyol. Tentang Fez tidak dibicarakan seperti pada perjanjian sebelumnya. Pembagian daerah pengaruh diadakan. Spanyol menerima daerah di sepanjang pantai dan sisanya untuk Prancis. Spanyol harus berjanji bahwa haknya di daerah Maroko tidak akan diserahkan kepada negara ketiga”. Kota Tanger berada dibawah pengawasan internasional, untuk menjaga jangan sampai di kota tersebut didirikan benteng-benteng.
Sesudah mengadakan perjanjian-perjanjian tersebut, Delcase mengumumkan bahwa telah tiba saatnya bagi Prancis untuk menjaga kepentingannya di Maroko. Prancis mulai melakukan “peacafulpenetration” dengan cara mendapatkan konsesi-konsesi dari Sultan Abdul Azis untuk kaum kapitalis Prancis. Tindakan semacam ini disebut pula “Tunification” terhadap Maroko. Sultan Abdul Azis yang naik tahta pada 1900 pada usia 16 tahun, menghambur-hamburkan uang sehingga uang khas negeri menjadi kosong. Untuk mengisi kas tersebut, ia memasukkan sistem pemungutan pajak yang berat dan mencari pinjaman pada bank-bank Prancis. Ketika ia tidak dapat membayar kembali, ia terpaksa harus menerima “bantuan” orang-orang Eropa untuk menjalankan sistem pengumpulan pajak secara modern dan juga aparatur polisi sevara modern.
Delcase mengirimkan M.Saint Rene Tailliandier ke Fez dengan membawa program “pembaharuan” yang pelaksanaanya harus berada dibawah pengawasan Prancis. Polisi militer dibentuk dibawah opsir-opsir Prancis. Bank negara didirikan untuk memperbaiki keadaan keuangan dan berbagai bangunan didirika dengan menggunakan modal Prancis. Satu-satunya negara Eropa yang menentang tindakan Prancis ini adalah Jerman. Italia, Spanyol dan Inggris telah terikat oleh perjanjian-perjanjian, sedang Rusia adalah sekutunya. Jerman menolak penentuan nasib Maroko melalui perjanjian-perjanjian tersebut diatas, dan menuntut agar isi konvensi Madrid (1880) tetap dihormati. Maroko harus tetap merupakan lapangan penanaman modal bagi modal-modal Eropa. Didaerah itu kepentingan Jerman harus dianggap sama dengan kepentingan Prancis ataupun Inggris. Intervensi Jerman terhadap Maroko ini disebabkan kerena Jerman pada waktu itu sangat membutuhkan ekspansi kolonial bagi kepentingan modalnya.
Pada Maret 1905, menteri Baron Von Holstein mempersilahkan Kaisar Wilhelm II mengunjungi Tanger. Kaisar mendarat selama 4 jam dan mengadakan pidato yang isinya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Maroko. Kaisar juga mengumumkan bahwa beliau adalah pembela kemerdekaan Maroko, dan maroko akan tetap terbuka bagi perdagangan segala bangsa dengan hak-hak yang sama. Sudah barang tentu pidato kaisar tersebut merupakan tantangan bagi rencana Delcasse. Tetapi Prancis pada waktu itu belum siap untuk mengadakan perang. Kepentingan antara kedua negeri tersebut makin hari makin memuncak. Rusia, sekutu Prancis, sesudah mengalami kekalahan melawan jepang pasti tidak akan membantu Prancis sedang bantuan dari Inggris belum dapat dipastikan.
Politik jerman pada waktu itu ditunjukkan untuk mematahkan Entente Cordiale dengan cara menarik Rusia, kemudian Prancis kepihaknya. Dalam hal ini Jerman akan menunjukkan kepada Prancis bahwa Entente Cordiale itu tidak ada artinya. Dan ini berarti suatu ujian bagi Entente. Pemerintah inggris tidak pernah lupa akan bahaya apabila Eropa bagian kontinen bersatu seperti pada zaman Nelson. Bahaya persatuan eropa dibawah pimpinan Jerman menghadapi Inggris seakan-akan dapat direlisasi, ketika kaisar menjumpai Tsar di Teluk Bjorko di Laut Timur, yang pada waktu sedang berusaha melupakan keruwetan-keruwetan didalam negerinya.
Kedua kepala negara itu mendatangani perjanjian yang berarti menyeret Rusia pada pihak Jerman. Perjanjian ini akan diperbaharui dan akan menarik Prancis kedalamnya, apabila Inggris terbukti tidak memberi bantuan kepada Prancis. Dengan demikian Kaisar menganggap bahwa Liga Kontinental pasti akan tercapai. Ketika Jerman menuntut diadakan konferensi internasional, Paris harus menentukan pilihannya, setia pada Entente Cordiale (1904) atau menerima usul Jerman. Delcasse menolak tuntunan Jerman, tetapi suara publik dan juga menteri-menteri lainnya dalam kabinet Rouvier menyesalkan bahwa politik Delcasse yang anti-jerman itu akan membawa negerinya dalam kedudukan yang berbahaya.
Kekalahan armada adminal Rozdeztwensky oleh armada Jepang di Selat Tsushima pada mei 1905 merupakan pertempuran yang menentukan. Amerika Serikat dan Jerman yang takut politik pintu terbuka di Tiongkok diakhiri. Cepat-cepat menganjurkan agar Rusia menghentikan perangnya. Kekalahan rusia yang merupakan sekutu Prancis, mengakibatkan Prancis menerima tuntunan jerman, mengadakan suatu konferensi untuk menentukan nasib Maroko. Rouvier sendiri bertindak sebagai menteri luar negeri dan Delcasse meletakkan jabatan. Konferensi tersebut dilangsungkan di Algeciras (Januari 1906).
Konferensi itu akan dipergunakan Jerman untuk menghina Prancis mematahkan Dua Alliance dan menunjukkan kepada Inggris bahwa ia salam dalam memilih sahabat. Diadakannya pertemuan itu berarti suatu kemenangan bagi Jerman. Tetapi kemenangan itu hanya langsung sebentar saja, karena hasilnya merupakan kekalahan bagi Jerman. Dalam konferensi itu Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol merupakan kelompok kuat untuk menghadapi Jerman. Mengenai hal-hal yang penting, Amerika Serikat dan Italia juga membantu Prancis. Hanya Austria sajalah yang membantu Jerman. Akhirnya diputuskan :
Ø  Kedaulan sultan secara formal diakui.
Ø  Kepolisian dan bank nasional berada dibawah pengawasan internasional.
Ø  Prinsip politik pintu terbuka bagi semua bangsa tetap berlaku.
Ø  Prancis diberi kebebasan menjalankan “ peaceful penetration” di Maroko, kecuali pantai utara.
Ø  Daerah pantai utara diserahkan kepada Spanyol.
Dengan demikian Jerman mengalami kekalahan diplomatik di Algeciras. Kemenangan Jerman dalam perjuangan tersebut dapat disebut kemenangan Phyrrhic. Sebaliknya Inggris adalah pemenang dalam perjuangan itu. Entente Cordiale tidak hanya diuji tentang kstabilannya, tetapi juga menjadi lebih kuat, karena Rusia telah bersedia mendekati Inggris. Italia melanjutkan “extra tour”-nya mendekati Prancis dan Inggris. Dengan lain perkataan Jerman sama sekali gagal dalam usahanya memecah belah Inggris dan Prancis. Untuk sementara krisis Maroko fase pertama ini telah dapat diatasi, krisis ini dapat dianggap sebagai percobaan mengadu kekuatan yang pertama kali antara Jerman disatu pihak dan negara-negara Barat lainnya dipihk lain. ( Soeratman : 118 124)
c.       Latar Belakang Krisis Maroko ke-II
Krisis Maroko kedua(yang juga dikenal sebagai Krisis Agadir, atau Panthersprung). Perancis merasa perlu untuk memantapkan kedudukannya di Maroko. Tetapi kondisi didalam negeri Maroko sendiri menjadi bergolak, karena munculnya perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Perancis. Pergolakan-pergolakan yang terjadi dan sikap Perancis dalam mengahadapi pergolakan tersebut, membuat Jerman masuk kembali ke masalah Maroko dengan mengakui kemerdekaan Maroko tahun 1808. Akibatnya pemberontakan-pemberontakanpun semakin hebat. Pada tahun 1911 ibukota Maroko, Fez bahkan dapat dikepung oleh kaum pemberontak dan tentara Perancis-pun menduduki kota tersebut.
Tindakan ini memaksa Jerman mengirimkan kapal-kapal perangnya ke Maroko yang merupakan tantangan bagi Perancis dan Inggris. Menurut Inggris tindakan Jerman tersebut mengancam perdamaian dunia karena melibatkan tiga Negara besar yaitu, Perancis, Jerman dan Inggris. Tetapi kondisi ini dapat diakhiri dengan perjanjian yang intinya Jerman harus meninggalkan Maroko dan mengakui kekuasaan Perancis atas Maroko. Dan sebagai imbalannya Jerman mendapatkan sebagian daerah Perancis di Kongo.
Dengan adanya perjanjian ini maka krisis Maroko episode ke II inipun berakhir dan Perancis makin memantapkan kedudukannya di Maroko,  dan pada tahun 1918, Maroko dijadikan wilayah protektorat Prancis.

d.      Krisis Maroko ke-II
Sesudah diadakan Konferensi Algeciras sampai 1911, terjadilah bermacam-macam konflik antara tentara Prancis dan penduduk maroko dan di Melilla antara orang-orang Spanyol dan penduduk pegunungan. Pada 1908 Sultan Abdul-Azis didesak oleh adiknya, Mulia Hafid, yang kemudian diakui oleh penguasa-penguasa Barat (1909). Pada tahun itu sebuah perjanjian antara Jerman dan Prancis ditandatangani. Isinya berdasarkan prinsip-prinsip perjanjian Algeciras, ialah kemerdekaan Sultan diakui dan persamaan hak dalm lapanagn ekonomi diberikan bagi semua bangsa. Pengaruh Prancis di maroko makin bertambah, tetapi situasi perekonomiannya terancam.
Kedudukan prancis sangat sulit, lebih-lebih ketika mulai ada pemberontakan pada 1911. Fez , ibu kota Maroko dikepung oleh kaum pemberontak dan tentara Prancis segera menduduki kota tersebut. Jerman menuduh tindakan Prancis itu sebagai tanda bahwa Prancis menghendaki protektorat atas Maroko. Peristiwa tersebut dipakai oleh Jerman untuk mendapatkan kompensasi.
Paris sibuk membicarakan masalah tersebut, bahkan disebut-sebut nama daerah Congo Prancis untuk ganti kerugian apabila Jerman menuntutnya. Pada Juli 1911 kedutaan-kedutaan Jerman di berbagai ibu kota mengumumkan, bahwa pemerintahnya telah memutuskan untuk melindungi kepentingan Jerman, terutama yang mengirimkan sebuah kapal perang dan kapal meriam “Panther” memasuki bandar Agadir di pantai samudra Atlantik. Munculnya “Panther” di Agadir itu merupakan suatu tantangan bagi Prancis, juga bagi Inggris. Inggris menuduh Jerman mendirikan pengkalan laut di pantai Lautan Atlantik dan tidakan tersebut mengancam perdamaian dunia.
Ketika Inggris memberi peringatan kepada Jerman, maka Jerman menjawab bahwa hinaan yang dilemparkan kepadanya itu tidak akan dibiarkan lalu begitu saja. Terjadilah krisis Maroko yang kedua. Persiapan perang secara mendalam telah dilakukan baik oleh Inggris, Prancis, maupun oleh Jerman. Tetapi kemudian keadaan yang penting itu dapat diatasi dengan mengadakan perjanjian yang berisi “ Jerman harus meninggalkan Agadir dan mengakui protektorat Prancis terhadap Maroko. Sebagai kompensasi Prancis memberi bagian barat-laut Congo Prancis kepada Jerman”. Sejak itu Prancis memperoleh daerah yang sangat luas di Afrika Utara. Krisis Maroko kedua telah berakhir.
Akibatnya hubungan antara Inggris dan Jerman menjadi sangat buruk. Pada orang-orang Jerman terbitlah perasaan bahwa Inggrislah musuh yang sebenarnya. Tetapi sedikit demi sedikit ketegangan antara dua bangsa tersebut dapat dikurangi. Hubungan baik antara Inggris dan Jerman selalu diusahakan, tetapi gagal. Perang dunia I membuktikan adanya kegagalan itu. ( Soeratman : 124-125).
e.       Gerakan Kemerdekaan Maroko
Seperti bangsa Afrika lainnya Maroko juga merupakan negara Protektorat dari Prancis. Selain dijajah Prancis Maroko juga pernah dijajah oleh Spanyol, disini terdapat tokoh perlawanan melawan Spanyol yang sangat terkenal yaitu Amir Abdul Karim pahlawan Rif yang sangat terkenal. Akan tetapi akhirnya Abdul Karim berhasil dilumpuhkan oleh Spanyol yang bekerja sama dengan Prancis.
Sebagai negara protektorat tentunya Maroko ingin mendapatkan sebuah kemerdekaan penuh. Dan perjuangan menuju arah itu terus dilakukan baik melalui jalur perundingan atau jalur kekerasan. Jalur kekerasan Maroko selalu mengalami kekagalan karena dalam bidang persenjataan tentara Prancis jauh lebih maju. Dan cara ini yang disenangi oleh Prancis.
Selain jalur kekerasan Maroko juga melakukan perjuangan melalui jalur perundingan dan diplomasi. Selama perang Dunia II Maroko amat penting bagi upaya perang sekutu. Pada tanggal 8 November 1942. Tentara Amerika merupakan pendaratan bersejarah di Maroko. Tahun berikutnya Presiden Franklin D.Roosevelt dari Amerika Serikat dan perdana Menteri Winston Churchill dari Inggris bertemu secara rahasia di Maroko pada Konferensi Kasablanka. Dekat akhir perang timbullah suatu pergerakan kemerdekaan Maroko yang kuat. Pergerakan ini dipelopori oleh sekelompok nasionalis yang mendapat dukungan bersemangat dari segenap penduduk negeri. Partai Istiqlal pun didirikan untuk melaksanakan perjuangan kemerdekaan itu.
            Pada tahun 1953 Prancis menangkap dan mengasingkan Sultan Mohammad V karena mendukung pergerakan kemerdekaan itu. Tindakan ini mengakibatkan terjadi kericuhan dan pertumpahan darah selama 2 tahun di Maroko. Hal ini sampai membawa masalah Maroko ke dalam sidang PBB pada tanggal 15 Oktober 1952, akhirnya di tahun 1955 Prancis mengizinkan Mohammad V kembali. Pada tahun berikutnya Maroko mendapat kemerdekaan penuh. Pada tahun 1957 Mohammad V memakai gelar raja. Ia memerintah sampai wafatnya pada tahun 1961 dan digantikan oleh putranya Hassan II. (Syakiraah : 76)
4.      TOKOH (MOHAMMAD V)
Memerintah     : 1927 - 1961
Pendahulu       : Yusef
Pengganti        : Hassan II
Ayah               : Yusef
Ibu                   : Lalla Ya'aqut
Lahir                : 10 Agustus 1909 Fes,Maroko
Meninggal       : 26-02-1961 (umur 51) Rabat
Dikubur           : Royal Mausoleum, Rabat
Agama             : Islam

Muhammad V (Sidi Muhammad ibn Youssef), Raja Maroko (1957-1961). Ia menggantikan ayahnya, Moulay Youssef, sebagai sultan pada tahun 1927. Seorang nasionalis bersemangat, dia digulingkan dan diasingkan (1953) oleh Perancis. Setelah tekanan nasionalis yang kuat, Perancis dibawa (1955) Muhammad dari pengasingan di Madagaskar ke Prancis, di mana ia sekali lagi diakui sebagai sultan. Ia memperoleh (1956) pengakuan penuh kedaulatan Maroko dari Perancis dan Spanyol dan, pada tahun 1957, ia mengambil gelar raja Maroko.
Sidi Muhammad Ben Yusuf adalah anak ketiga dari Mulay Yusuf, seorang pangeran berwarna dan saudara Sultan Maroko, Mulay Hafid. Muhammad lahir di Fez pada tahun 1910, pada awal periode protektorat, tampaknya tidak mungkin ia akan memerintah. Dua tahun kemudian, Prancis dinominasikan ayahnya untuk sukses Sultan, yang telah mereka digulingkan karena ia menolak untuk memerintah seperti yang mereka inginkan. Muhammad V datang ke kekuasaan setelah kematian ayahnya pada tahun 1927, karena pemerintah Perancis menganggap dia untuk menjadi lebih fleksibel dan kurang ambisius dibandingkan saudara-saudaranya. Namun demikian, ia menggunakan kepopulerannya dan keterampilan dalam diplomasi internasional untuk melibatkan diri dalam perjuangan, pada awalnya tidak merata, dengan otoritas protektorat itu.
Setelah Dahir Berber pada tahun 1930, yang dari suku lega Berber mengirimkan Shariʿa ( hukum Islam ), Muhammad menjadi lebih sensitif terhadap nasionalisme Maroko, yang baru mulai terbangun. Tanpa putus dari protektorat itu, ia mendukung demonstrasi oleh para intelektual tradisional dan modern muda, seperti Allal al - Fasi, Hassan El Ouezzani, dan Ahmed Balafrej, yang pada tahun 1944, melahirkan Partai Istiqlal (Kemerdekaan). Perang Dunia II disajikan kesempatan untuk membujuk protektorat untuk bergerak ke arah rezim koperasi lebih setia dengan semangat perjanjian asli antara Prancis dan Maroko.
Muhammad menentang upaya Prancis untuk melindungi Maroko Yahudi dari penganiayaan saat ia membantu membangun kembali kekuatan militer untuk melawan lagi dengan Sekutu. 1942 Pertemuan Casablanca dengan Presiden AS Franklin D. Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill S. memperkuat perlawanan . Sejak saat itu , ia menggunakan strategi mempromosikan perubahan bertahap untuk mendapatkan kembali kedaulatan negaranya yang telah hilangan pada tahun 1912. Dia mendekati otoritas Perancis langsung untuk menghindari rintangan yang dibentuk oleh kedua pemukim dan pegawai negeri sipil Perancis, yang menentang perubahan. Tapi dia tidak berhasil meskipun hubungan baik dengan Jenderal Charles de Gaulle. Di tingkat lokal, oposisi terhadap Perancis menjadi lebih dan lebih ganas dan menyebabkan sultan deposisi dan pengasingan di Madagaskar pada tanggal 20 Agustus 1953. Tapi Prancis tidak bisa melengserkan Muhammad pada tahun 1953 dengan cara yang sama itu digulingkan pamannya Mulay Hafid. Lingkungan internasional yang tidak menguntungkan ke Prancis , opini publik Perancis diterima enggan plot pro - konsul', dan di atas semua, Muhammad adalah simbol dari gerakan oposisi yang sangat dalam, yang dimobilisasi kota Maroko serta pedesaan. Bangsa ini tidak bisa lagi diatur, dan pemerintah Perancis runtuh dalam waktu dua tahun dalam menghadapi pemberontakan. Muhammad dipanggil kembali untuk melestarikan ekonomi dan militer kehadiran Perancis, yang jika tidak, bisa saja tersapu oleh arus nasionalisme yang jauh lebih radikal dari pada yang diwakili oleh raja dan kaum borjuis Maroko.
Setelah ia kembali kepada tahtanya pada bulan November 1955, Muhammad mengambil peran juru bicara nasionalisme. Dia membiarkan Partai Istiqlal mengerahkan kekuatan tanpa menjadi seorang tahanan dari gerakan nasionalis. Dia terus membela hak monarki itu. Muhammad dan negaranya keluar dari konfrontasi antara Perancis dan Aljazair Front de Libération Nationale ( FLN ).
Setelah berhasil membangun kembali kemerdekaan negaranya di panggung internasional, Muhammad juga mengkonsolidasikan posisi monarki dalam sistem kelembagaan, yang terguncang oleh 1953 - krisis 1955. Beberapa di antara kaum nasionalis menyambut seorang raja yang memerintah tanpa pemerintahan.
Dukungan yang diperoleh pertempuran dengan Istiqlal melawan protektorat membantunya menjaga kekuasaannya atas bagian penting dari gerakan nasionalis. Pasukan militer dan polisi ditempatkan di bawah otoritas monarki, tetapi sektor administratif lainnya bergantung pada pemerintah di dominasi oleh Istiqlal. Tanpa bantuan dari monarki, itu tidak mungkin untuk memastikan baik kontrol gerakan perlawanan atau penyelesaian pemberontakan pedesaan.
Selama tiga puluh dua tahun ini pemerintahan , Muhammad V mendengarkan negaranya dan mengambil bagian dalam evolusinya , yang memungkinkan untuk memulihkan independensi dan memproyeksikan dirinya menjadi modernitas. Muhammad V adalah simbol baik kemerdekaan dan modernitas . Simbol yang terus hari ini untuk cap citra monarki dan memberi Maroko identitas yang kuat yang sangat dibedakan dari yang negara-negara tetangganya.
http://www.answers.com/topic/mohammed-v-of-morocco # ixzz2oJRYw5Q9










DAFTAR PUSTAKA
Soeratman, Darsiti.2012.Sejarah Afrika: Yogyakarta : Ombak
Syakiraah,Alifa.2012.Sejarah Afrika,Dari Masa Kuno Hingga Modern : Palembang
Adebo,Chief.S.O.2003.Negara dan Bangsa.Jakarta:Widyadara
Editor : Wasis,Widjiono.1991.Alamak Jagad Raya.Jakarta : PT Dian Rakyat
http://danaliqreen.blogspot.com/2014/01/maroko.html
http://www.answers.com/topic/mohammed-v-of-morocco # ixzz2oJRYw5Q9
(Di Akses 23-12-2013)