animasi





tinggal ketik untuk mencari data

Minggu, 24 November 2013

KRISIS FASHODA


        Apabila Afrika sebelah selatan dan timur merupakan tempat di mana Inggris mendapat saingan dari bangsa Jerman dalam mencari daerah – daerah pengaruh, maka di Mesir dan Maroko saingan Inggris yang terhebat adalah Perancis. Puncak sengketa antara dua Negara imperialis tersebut (Inggris dan Perancis) menimbulkan suatu krisis. Masing – masing memperebutkan daerah Fashoda di Sudan. Dengan memiliki Fashoda, di lembah sungai Nil itu. Yang kemudian juga diharapkan akan ditambah dengan penguasaan Ethiopia, impian negeri Perancis untuk membentuk suatu “Imperium Samudra ke Samudra” akan dapat terlaksana. Daerah Perancis di Afrika dengan demikian akan meluas melebar dari samudra Atlantik ke laut merah, dari laut tengah ke teluk Guinea. Semua daerah di Afrika sebelah utara Equator dengan beberapa perkecualian di sana – sini, akan menjadi milik Perancis. Sebaliknya dengan memiliki Sudan, maka cita – cita Inggris “Cape ke Cairo” juga akan tercapai. Oleh karena itu maka Inggris bermaksud untuk mengusahakan dengan keras agar Sudan dapat dikuasainya.
            Pertentangan Inggris – Mesir di satu pihak dan Sudan di pihak lain telah berkahir pada 1885, dengan kemenangan di tangan kaum Mahdi. Khartoum jatuh dan Jenderal Gordon bersama tentaranya dibunuh oleh kaum pemberontak. Pada 1896, pertentangan yang ke dua dimulai. Pemerintah Inggris mengirimkan suatu ekspedisi, terdiri atas tentara gabungan Inggris-Mesir ke Dongola, sebelah utara dari lengkungan sungai Nil di Sudan. Ekspedisi untuk menguasai kembali Sudan bukan semata – mata suatu perbuatan “pembalasan atas kematian Gordon pada 1885.” Alasan-alasan mengapa Inggris tiba-tiba mengubah sikapnya terhadap Sudan ialah :
1)      Beberapa Negara-negara Eropa dalam tahun-tahun sesudah 1880 menduduki bagian-bagian dari Sudan yang kemudian daerah-daerah itu disebut Eritrea dan Somaliland. Dalam tahun – tahun sekitar 1890 mereka bersaing untuk mendapatkan daerah pengaruh di wilayah yang kemudian hari terkenal dengan nama Anglo-Egyptian Sudan.
2)      Kekalahan yang hebat diderita oleh orang-orang Italia dalam pertemuan Adua (1896) melawan orang – orang Ethiopia. Peristiwa ini mengakibatkan batas sebelah selatan Mesir terancam oleh bahaya serangan orang – orang Derwish. Menurut laporan orang – orang Italia, kaum Derwish itu bersekutu dengan orang – orang Ethiopia untuk bersama – sama merebut Kassala yang dikuasai oleh Italia. Oleh sebab itu maka Italia minta bantuan Inggris dan berdasarkan keadaan tersebut Inggris bersama Mesir memutuskan akan mengirimkan ekspedisi ke Dongola.
3)      Politik Inggris terhadap Sudan itu adalah akibat pertumbuhan semangat imperialisme yang sangat hebat di Inggris. Kepentingan yang paling utama terhadap penaklukan Sudan adalah untuk penanaman modal kaum kapitalis Inggris.
4)      Kemajuan irigasi ditanah Mesir memerlukan penguasaan daerah Sudan.
Untuk memperkuat diri didaerah sungai Nil itu Inggris mengadakan perjanjian dengan Negara imperialis lainnya misalnya dengan Italia (1891), dengan Jerman (1893). Pada tahun berikutnya perjanjian diadakan dengan Congo Free State.
Dalam semua perjanjian tersebut, ketiga Negara itu mengakui, bahwa lembah sungai Nil sebelah selatan adalah termasuk daerah pengaruh Inggris.
Pada tahun 1894, Jerman juga mengadakan perjanjian dengan Perancis, berisi ketentuan bahwa batas Congo Free State di sebelah utara tidak melampaui Mbomu sedang batas Kamerun (Jerman) tidak boleh melewati Sahara, sehingga dengan demikian Congo Perancis dapat memperluas diri ke daerah-daerah dalaman di Afrika tengah.
Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Perancis. Menteri Ribotdan hanotauxmemutuskan akan mengirimkan suatu ekspedisi dipimpin oleh Liotard dengan tugas menanamkan kekuasaan Perancis di sekitar Bahr-el-Ghazal, dan apabila mungkin ke daerah Nil. Akan tetapi ekspedisi Liotard itu hanya mendapat hasil yang sangat sedikit.
Pada februari 1896, ketika Inggris juga mengirimkan ekspedisi dengan tujuan yang sama dan berangkat dari Afrika Timur maka Liotard di panggil kembali oleh pemerintahannya. Sebagai gantinya, Kapten J.B. Marchand dikirim dengan tugas melintasi Afrika menuju ke lembah Nil hulu. Pada nya di beri pengikut yang berjumlah kecil, 213 orang Afrika dan 21 Perancis. Walaupun ekspedisi ini tidak bersifat militer, namun Marchand juga diperintah untuk mengibarkan bendera Tricolore di wilayah Sudan. Perancis menganggap sejak Mesir melepaskan Sudan untuk kaum Mahdi (1885), daerah tersebut merupakan daerah yang tak bertuan.
Pemerintah Inggris dan Mesir berkehendak sekali menguasai kembali Sudan, tetapi karena alasan-alasan financial, Lord Cromer mula-mula belum dapat menerima saran pengiriman ekspedisi ke daerah selatan itu. Barulah ketika Lord Salisbury dan Chamberlain meyakinkan, bahwa untuk menentukan nasib Sudan itu Perancis telah mengadakan hubungan dengan Negus Ethiopia dan juga mengirimkan ekspedisi maka Cromer mau menerima saran tersebut.
Pada februari 1896 Lord Kitcherner, seorang Sirdar Khedive Mesir, dikirim ke selatan untuk memimpin ekspedisi Inggris-Mesir pada 23 september 1896, ekspedisi ini sudah mencapai Dongola. Kota ini dapat direbutnya tanpa pertemuan. Akan tetapi ekspedisi tersebut tidak hanya berhenti di Dongola. Mencapai Dongola adalah tahapan pertama dari tujuan akhir ekspedisinya.
Dalam 1897 Kitcherner berangkat ke selatan sambil memperpanjang pemasangan jalan kereta api. Tindakan ini merupakan sumbangan kepada realisasi proyek pembangunan proyek jalan kereta api “Cape Cairo”, yang diimpi-impikan oleh cecil Rhodes.
Pada April 1898 ia bersama tentaranya sebanyak 20.000 orang berhasil mengalahkan kaum Derwish di Atbara. Dari kota ini serangan diteruskan ke Omdurman, salah satu benteng kaum Mahdi. Sesudah memberikan perlawanan seru, Omdurman jatuh ketangan tentara Inggris-Mesir. Khalifa diikuti pemimpin – pemimpin lainnya antara lain Uthman Diqna dan ribuan Penganutnya melarikan diri menuju kearah selatan dan selanjutnya menyelinap kearah barat. Jalan ke Khartoum sekarang terbuka. Lord Cromer memerintahkan agar bendera Inggris dan Mesir dikibarkan berdampingan di kota tersebut (September 1898).
Ketika Kitchener sampai di Fashoda pada 19 september 1898, terjadilah suatu krisis. Inggris dan Perancis adalah pesaing lama di daerah lembah sungai Nil dan pada waktu itu kedua tokoh wakil Negara-negara tersebut bertemu di Fashoda. Kemudian Kitchener berkata kepada Marchand bahwa berkibarnya benderan Perancis di fashoda itu merupakan pemerkosaan langsung terhadap kekuasaan Mesir, karena daerah tersebut adalah milik yang mulia Khedive.
Bahaja perang mengancam Inggris dan Perancis. Bagi Inggris masalah daerah Sudan merupakan persoalan yang gawat. Pada saat itu Inggris masih tetap berpijak pada politik isolasi sedang Perancis sejak 1893 telah tergabung dalam dual Alliance bersama Rusia. Keadaan yang sangat kritis bagi Inggris ini akan dipergunakan Jerman untuk memperkuat aliansinya.
Sejak 1895 Jerman ingin meyeret Inggris ke dalam triple Alliance, menurut perhitungan Jerman, Inggris tidak mungkin dapat mengadakan hubungan baik dengan Perancis karena kedua negeri tersebut telah bermusuhan berabad-abad lamanya. Kecurigaan Inggris terhadap Perancis makin bertambah ketika pada 1893 terbentuk dual Alliance. Tahun 1898 merupakan saat yang nampaknya sangat menguntungkan bagi Jerman. Inggris diharapkan akan minta bantuannya untuk menghadapi Perancis, demikian pula Perancis juga akan membutuhkan bantuannya untuk menghadapi Inggris. Dalam kesempatan inilah kaisar Wilhelm II akan merialisasi cita-citanya ialah membentuk “liga kontinental” yang beranggotakan Perancis, Rusia dan Jerman. Liga ini dimaksudkan untuk menghadapi Inggris. Bagi Perancis masalah Fashoda juga merupakan masalah yang sangat pelik. Baginya ada dua jalan untuk mengatasi Insiden itu: menerima usul Jerman atau memenuhi tuntutan Inggris, ialah penarikan kembali ekspedisi yang dipimpin oleh Marchand. Perancis kala itu memutuskan untuk memenuhi tuntutan Inggris. Karena Perancis pada waktu itu tidak siap untuk berperang.

Sebaliknya penyelsaian masalah Fashoda tersebut merupakan kemenangan yang gemilang bagi pemerintahan Salisbury. Sesudah tentara Perancis dievakuasikan, timbullah kesukaran-kesukaran baru, karena terjadinya kekosongan pemerintahan di Sudan, dan yang akan memiliki Sudan ada dua Negara Inggris dan Mesir, akhirnya tercapailah persetujuan dengan Mesir. Pada Januari 1899 ditandatangani perjanjian yang disebut Condominium Agreement. Dengan perjanjian itu, Sudan diperintah oleh Mesir dan Inggris, Lord Kitcherner ditunjuk sebagai gubernur jenderal di Angola-egyptian Sudan. (Soeratman : 77)