animasi





tinggal ketik untuk mencari data

Senin, 04 November 2013

MAROKO



Konflik Maroko Versus Sahara Barat: Pola Kolonialisme Melestarikan Wilayah Tak Bertuan di Jalur Sutra

jalur sutra berwarna biru

Menurut bacaan penulis dengan merujuk berbagai sumber, siapapun orang apabila hendak menelaah konflik antara Maroko versus Sahara Barat (sejak 1975), rujukannya tidak boleh lepas dari dua aspek utama sebagai daya picu. Pertama adalah geopolitic leverage yang melekat (takdir) di kedua negara. Artinya selain letak (geostategy possition) yang strategis di tepi Lautan Atlantik, juga faktor kandungan minyak dan gas, apalagi setelah ditemukan cadangan hidrokarbon yang signifikan di Sahara Barat semakin menguatkan motivasi kedua belah pihak untuk tetap memperjuangkan klaim wilayah; dan kedua ialah kepentingan Kerr-McGee Corp dan Total, dua korporasi minyak dan gas milik Amerika Serikat (AS) serta Perancis yang memperoleh konsesi eksplorasi hidrokarbon dari Maroko (2001), meskipun akhirnya Total menarik diri (2004) karena ketidakpastian situasi.
Dengan demikian, langkah-langkah yang telah, sedang dan akan ditempuh dalam rangka kontribusi penyelesaian konflik baik melalui forum seminar, diplomasi bahkan sampai angkat senjata dan lain-lain, atau melibatkan berbagai lembaga internasional seperti PBB sebagai mediator, wajib mengaitkan dua faktor tadi sebagai “akar masalah”. Tanpa kedua hal di atas, maka pisau analisa, metode, solusi dan rekomendasi dari manapun terasa hambar bahkan terkesan didangkalkan.
Namun entah kenapa, pasca penarikan (militer) Spanyol, Maroko langsung mengambil-alih Saguia El Hamra, sedang Mauritania mencaplok Rio De Oro. Keduanya merupakan wilayah Sahara Barat ex jajahan Spanyol. Tetapi pada saat yang sama, pada 27 Februari 1976 Front Polisario didukung Aljazair juga memproklamasikan Republik Demokratik Arab Sahrawi (RDAS). Dan secara masif, RDAS melancarkan perang gerilya guna meraih kemerdekaan terhadap penjajah baru yang dilakukan oleh Maroko dan Mauritania.
Otonomi Khusus Bagi Sahara? Aneh!
Beberapa solusi ditawarkan guna menyelesaikan konflik panjang tersebut, namun selalu gagal. Tetapi segala usaha membuat damai dua negara yang bersengketa di ujung Afrika Utara terus dilakukan. Yang unik ketika upaya penyelesaian meniru mekanisme proses damai seperti konflik Aceh dulu. Tampaknya gaung keberhasilan implementasi MoU Helsinki menarik perhatian dunia.
Awalnya ialah inisiatif Otonomi Khusus (Otsus) bagi Sahara Barat yang diajukan Kerajaan Maroko sebagai tanggapan atas seruan Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi Nomor 1570 tanggal 28 Oktober 2004. Tak kurang Menlu Perancis, Alain Juppe (7/3/2011) mendukung rencana Maroko memberikan wilayah sengketa Sahara Barat otonomi adalah usulan yang realistis untuk wilayah itu. Menlu AS Hillary Clinton pun juga mendukung. Ia memberi gambaran rencana otonomi sebagai “serius, kredibel dan realistis”.
.
Satu dari lima topik yang dibahas dalam seminar yang dilaksanakan dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa. Pertanyaannya adalah, mungkinkah pemecahan sengketa Maroko dan Sahara Barat disamakan pola dan tata caranya dengan proses damai seperti Aceh melalui Otsus? Ini yang menjadi masalah. Artinya solusi Otsus bagi Sahara niscaya menjadi bagian masalah baru karena berbeda kondisi. Aceh tidak pernah dijajah dan merupakan bagian Indonesia (NKRI), sedang Sahara Barat bekas jajahan Spanyol, kemudian dicaplok Maroko. Bukankah terdapat azas Uti Possedetis, salah satu pedoman baku hukum internasional yang hingga kini berlaku dimana esensinya ialah: “bahwa batas wilayah negara bekas jajahan yang kemudian merdeka, mengikuti batas wilayah sebelum negara tersebut merdeka”?

Bahwa akar masalah, latar belakang, dan kharakteristik antara Aceh dan Sahara Barat sangat jauh berbeda. Ibarat ibu-ibu gendut meniru cara seorang peragawati langsing mengenakan celana ketat lagi sexy, terkesan memang “dipaksakan”. Lucu! Ya, sepertinya solusi Otsus atas Sahara hanya ingin memberikan kesan kepada dunia bahwa seolah-olah ia bagian dari Maroko.
Siapa Dibelakang Maroko?
Merujuk awal tulisan ini, selain terdapat kepentingan Total dan Kerr-McGee Corp, tak boleh dielak bahwa kepentingan AS pun kuat tertancap di Maroko. Indikasinya terlihat ketika ia membantu menggagalkan dua kali kudeta terhadap Raja Hasan II. Atau dukungan tatkala Maroko hendak menguasai Spanis Barat (nama lain Sahara Barat). Alasan kenapa Uncle Sam mati-matian mendukung Maroko adalah faktor ideologis dan geopolitik, artinya Raja Hasan II merupakan sekutu utama AS di Afrika Utara guna menghadapi Islam Radikal dan pengaruh Komunis (Ian Willian and Stephen Zunes, 30 Agustus 2006).
Selain AS,  Perancis ternyata mendukung secara penuh. Apakah gara-gara Total mendapat konsesi hidrokarbon dari Maroko, entahlah. Menurut data, Total menarik diri dari bisnis migas di Maroko pada 2004. Tapi yang pasti kedua adidaya menekan Spanyol agar turut mendukung Maroko. Ancaman kepada Spanyol pun tidak tanggung-tanggung yakni menghentikan bantuan militer dan teknologi, bahkan kalau perlu embargo lebih luas lagi. Pada akhirnya diketahui, bahwa AS maupun Perancis memberikan dukungan militer kepada Maroko (Jacob Mundy, 2012).
Gerakan Maroko dan Kerr-McGee “merambah” ke wilayah Sahara Barat, sesungguhnya telah menuai kritik bahkan ditentang banyak kalangan. bahwa apa yang dilakukan Kerr-McGee adalah ilegal. Alasan pertama, “Kesepakatan Madrid” tidak memberikan kepada Maroko hak apapun mengenai wilayah yang menjadi sengketa, karena sama sekali tidak melibatkan rakyat Sahara Barat. Alasan kedua, Resolusi Majelis Umum PBB mengenai pengelolaan kekayaan ekonomi wilayah-wilayah yang masih berada dalam pemerintahan administasi diabdikan bagi kesejahteraan rakyat yang bersangkutan membantu pemerintahan yang mandiri. Ia menambahkan, “Kesepakatan Madrid tidak mentransfer kedaulatan atas wilayah itu, juga tidak memberikan kepada salah satu penandatangan status kekuasaan administrasi, status Spanyol (red: sebagai penjajah) tidak bisa ditransfer secara sepihak”.
Demikian juga Miguel Angel Moratinus, Menlu Spanyol sang mantan negara penjajah pun membuat statement lebih keras lagi, bahwa apa yang dilakukan oleh Maroko adalah ilegal. Tetapi tampaknya, baik McGee maupun Maroko tidak peduli. Mereka jalan terus.
Salah satu upaya Maroko ialah Green March yakni memobilisasi massa guna menduduki Sahara Barat menggeser penduduk asli. Pola ini persis methode Cina sewaktu mengatasi konflik etnis di Xinjiang dulu, dimana pemerintah Cina men-droup suku Han hampir sama jumlahnya dengan suku Uigur, penduduk asli di Xinjiang. Mungkin contoh aktual adalah terusirnya suku Rohangya dari kampung halaman karena “meletus”-nya konflik etnis di Arakan, Myanmar, dan lain-lainnya.
Sepertinya pertikaian dua negeri di tepian Lautan Atlantik tersebut adalah perpanjangan tangan atau bahkan merupakan implementasi dari skenario global, atau jangan-jangan justru grand strategy para adidaya dunia. Inilah yang mutlak dicermati. Asumsi umum bahwa konflik lokal merupakan bagian dari konflik global semakin relevan memotret konflik berlarut antara Maroko dan Sahara Barat.
menampung tentara desersi, cacat, trauma atau sebab lain yang menyebabkan mereka tidak layak melanjutkan pertempuran. Ini konsep lapangan, sehingga keberadaanya meski seolah-olah tak terekam oleh Markas Besar, tetapi dipahami. Artinya bila suatu ketika ada temuan pun niscaya dimaklumi – karena praktek operasionalnya dalam koridor kepentingan militer di daerah inti tempur sendiri, terutama bila menghadapi peperangan dalam skala besar dan lama. Kelebihannya di sisi lain, bahwa komando di kawasan ini mampu mencari ”logistik” sendiri dengan kelaziman tata cara militer karena lengkapnya peralatan, bahkan mungkin hampir sama dengan peralatan pasukan di daerah tempur inti.
Kembali ke Sahara Barat, apakah ia hendak dijadikan “wilayah tak bertuan” bagi kepentingan operasi militer AS dengan merujuk pedoman prinsip US Africom yaitu melindungi aliran sumberdaya alam dari Afrika ke pasar global, memang perlu penelusuran lagi.
Jalur Sutra  membentang sepanjang 7000-an kilometer dari Cina, Asia Tengah sampai ke Eropa. Terdiri atas banyak cabang. Tetapi secara garis besar terdapat tiga jalur utama di utara, di tengah dan di selatan: (1) Jalur Utara: terhubung antara Cina – Eropa hingga Laut Mati melalui Urumqi dan Lembah Fergana; (2) Jalur Tengah: Cina – Eropa hingga tepian Laut Mediterania, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia/Iraq; (3) Jalur Selatan: Cina – Afghanistan, Iran dan India melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Itulah awal dikenal atau sebutan Jalur  Sutra.
Sir Halford Mackinder (1861-1961) dari Inggris mengatakan bahwa siapa negara menguasai kawasan ini (Timur Tengah dan Asia Tengah) yang memiliki kandungan sumberdaya alam dan aneka ragam mineral, bakal menuju arah “Global Imperium”. Ia menyebut kawasan ini sebagai “Heartland”, jantungnya dunia.
Dalam perspektif adidaya dunia, geopolitik kawasan ini sangat prospektif lagi dahsyat karena membelah dua dunia, yakni antara (kepentingan) Barat dan Timur. Maka dengan berbagai cara, adidaya Barat seperti jajaran Uni Eropa, AS dan para sekutu mengurai pengaruhnya. Didirikan US Centcom, US Africom, dan lainnya ialah dalam rangka menancapkan hegemoni. Tak ketinggalan para adidaya baru dari Timur (Rusia dan Cina) pun menjalin hubungan pada negara-negara di kawasan tersebut guna menebar pengaruh.
Menurut David Rockefeller, jalur tersebut melintas antara Maroko (Afrika Utara) hingga perbatasan Cina dan Rusia. Sedang asumsi GFI, riil jalur melegenda kini membujur di antara Cina dan perbatasan Rusia – via UTARA melalui Kyrgystan, Kazakhtan, Uzbekistan, Turmeniztan, Iran, Iraq, SYRIA, Turki dan selanjutnya terus ke Eropa; sedangkan via SELATAN membentang antara Cina, India, Pakistan, Afghanistan, Iran, Iraq, SYRIA, Mesir dan terus berlanjut ke negara-negara Afrika Utara hingga MAROKO.
Maka simpulan sementara yang dapat ditarik dengan berlarutnya konflik antara Maroko dan Sahara Barat yang tak kunjung selesai, semata-mata ialah urgensi geopolitik dan “kesengajaan” para adidaya terutama AS dalam rangka menciptakan “wilayah tak bertuan” sebagai daerah penopang dalam rangka menguasai Jalur Sutra.
  1. Letak Geografis Maroko
Maroko adalah sebuah negara dengan luas daratan 710, 850 km2. terletak di ujung utara bagian  barat benua Afrika. Membentang luas dari utara, berbatasan dengan laut Mediterania, dan dari Barat oleh Samudra Atlantik (dengan garis pantai yang panjangnya lebih dari 3000 Km), dan dipisahkan dari Benua Eropa oleh Selat Gibraltar atau yang dulu dikenal dengan Selat Jabal Thoriq (14 Km – berseberangan langsung dengan Spanyol). Dan berbatasan dengan Mauritania di Selatan, Dan Al-jazair di Timur. Maroko berada di zona waktu Greenwich, sehingga waktunya pun mengadopsi Greenwich mean time atau menyamakannya dengan waktu Greenwich.
Dikarenakan Maroko berada jauh dari di utara garis khatulistiwa, maka negara ini pun memiliki empat musim, layaknya Eropa. Yaitu musim panas ( Juni-Agustus ), musim gugur (September-November), musim dingin (Desember-februari), dan musim semi (Maret-Mei).
Cuaca di Maroko yang paling dominan adalah di daerah mediterania, yang meliputi bagian barat Maroko dan utara dikarenakan Samudra Atlantik dengan kelembaban yang tinggi dan sejuk dibanding wilayah lain seperti Maroko bagian tengah dan selatan dengan perbedaan suhu yang tinggi.

Sementara zona Atlas Utara lembab, dengan turunnya hujan dan salju pada musim dingin, sedangkan padang pasir (sahara) dengan suhu yang panas mendominasi Maroko bagian selatan.
  1. Agama dan kepercayaan di Maroko
Maroko sangat dikenal sebagai negeri eksotik di ujung barat dunia Islam. Maroko merupakan salah satu negara kerajaan dengan penduduk mayoritas muslim. Bahkan Pemerintah Kerajaan Maroko hanya mengakui Islam sebagai agama resminya.

 Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau wali songo ketika menyebarkan Islam di Nusantara. Maka tak heran jika ada ritual-ritual keagamaan yang mirip dengan keislamaan di Indonesia.           
Maroko juga dikenal sebagai negara Arab yang gaul, nuansa Eropanya sangat kuat, tetapi tak kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran Modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam.
Raja yang hampir berusia 50 tahun itu sedang berupaya mempertahankan tradisi keagamaan yang berusia ribuan tahun dengan arus globalisasi. Maka tak heran, jika di negeri bekas jajahan Perancis dan Spanyol ini, simbol-simbol tradisi Islam tetap kelihatan. Aktifitas religius selalu semarak. Aneka ritual tarekat sufi bebas berekspresi. Di tengah kuatnya arus modernisasi dan globalisasi yang berhembus kencang dari Barat. Bahkan kaum wahabi Maroko pun kadang-kadang sering kewalahan untuk mempengaruhi “Islam Tradisional” ini.

Kristen di Maroko


            Walaupun Maroko dikenal sebagai negera kerajaan dengan penduduk mayoritas muslim, yaitu 98,7 %. Namun pada tahun 2009 sensus mencatat ada 1,1 % atau 380.000 dari penduduknya beragama Kristen. Untuk mudah mengetahuinya, biasanya mereka itu mempunyai rumah dengan ciri khas yang sering dinamai dengan al Mallah.
            Kristen di Maroko telah lama muncul, yaitu sejak masa kerajaan Romawi. Yang dikenal dengan Kristen Babar yang menganut aliran Qibtiyah. Saat penaklukan Islam di Maroko yang dipimpin oleh ‘Uqbah ibn Nafie’ antara tahun 681 dan 683 M. mereka perlahan mulai sembunyi-sembunyi dalam membawa misinya.

Sekitar abad ke 19 dan 20 atau pada masa penjajahan Perancis terhadap Maroko, kaum Kristen mulai berdatangan kembali ke Maroko dengan jumlah yang sangat banyak. Kelompok ini kemudian disebut dengan al aqdam as sauda’ (Pendatang gelap). Mereka ini kebanyakan dari Italia, Spanyol, Perancis, dan bahkan dari Eropa timur. Mayoritas kelompok ini adalah para penganut Kristen Katholik.

Sementara pada tahun 1830 jumlah Kristen-Eropa di Maroko masih sangat sedikit, yaitu hanya berkisar 250 orang dan yang tinggal di kota Tanger sebanyak 220 orang. Jumlah ini melonjak pada tahun 1858 menjadi 700 orang. Kemudian pada tahun 1864 menjadi 1400 orang dan hingga tahun 1910 mencapai 10.000 orang.

Saat ini umat Kristen di Maroko sering mengadakan ritual keagamaannya di dua gereja, yaitu Gereja Romawi Katholik dan Protestan. Mereka mayoritas tinggal di Casablanca dan kota-kota lainnya seperti Rabat, Tanger, Meknes, Marrakech dan Essaouira. Kebanyakan dari mereka adalah berasal dari Eropa yang tinggal sejak awal pejajahan dan ditambah dengan penduuk asli Maroko yang dulunya beragama Islam. Mereka sering melakukan ritual-ritual keagamaannya dengan sembunyi-sembunyi bertempat di gereja khusus yang hanya di ketahui kalangan mereka, dan Mayoritas dari mereka ini menganut ajaran kristen protestan dengan ajaran yang khas.

Toleransi Antar Umat Beragama
Sepanjang sejarah, praktek Tasamuh (toleransi) antar umat beragama di Maroko sangat dikenal dengan baik sejak abad ke 3 sebelum masehi. Sebagaimana Raja Maroko pernah megizinkan kaum Yahudi Israel untuk kembali lagi ke Maroko dan memberikan kesempatan tinggal. Bahkan Raja pun memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin mengubah kewarganegaraannya menjadi warga Negara Maroko.

Dalam undang-undang Kerajaan Maroko, Pasal tiga mengatakan, “Setiap warga Negara dijamin dan diberikan kebebasan untuk melaksanakan agamanya masing-masing”. Walaupun demikian, saat ini ada undang-undang baru yaitu al Qanun al Jina’i (hukum pidana) yang melarang warga asli Maroko untuk pindah agama, dari Islam ke agama lain. Kecuali bagi warga maroko yang sudah memeluk ajaran Kristen sejak dulu, dan kini diberikan kesempatan bagi mereka untuk mengamalkan ajarannya secara terang-terangan.
Bahkan saat ini di Maroko ada Majlis al Kanais al Khomsi (Forum perkumpulan lima Gereja), yaitu semacam wadah pertemuan agama-agama Kristen di Maroko yang terdiri dari lima gereja yang berbeda-beda, dan forum perkumpulan ini sangat diakui secara resmi dan dilindungi oleh undang-undang Kerajaan Maroko.
Budaya maroko



FESTIVAL

Maroko mempunyai banyak festival, diantaranya Fez Festival Musik Sakral Dunia,  Essaouira Gnaoua dan World Music Festival,  Marakesh  Folklore Festival, Rose Festival,  Pernikahan Imilchil Festival,  Cherry Festival,  Prosesi Lilin Lantern,  Camel Festiva, Pohon Almond Blossom Festival. 

KULINER KHAS

Banyak makanan khas Maroko seperti Bastila adalah kue merpati, persiapan mewah, benar-benar kaya, dan megah yang dibuat untuk kesempatan khusus di Maroko seperti liburan, pernikahan, atau ketika tamu terhormat datang. Selain itu juga terdapat makanan khas lainnya adalah pastelis

TARI-TARIAN 

Maroko adalah sebuah negara dengan adat cerita rakyat yang beragam, dan tradisi. Dari ekspresi suku dan cerita rakyat banyak, salah satu yang paling tidak biasa adalah tarian kuno yang dikenal sebagai Guedra tersebut. Ini adalah sebuah ritual dilakukan untuk musik trance. Asal-usulnya adalah spekulatif. Guedra mengambil nama dari drum dimainkan untuk menjaga ritme nya. Para guedra kata berarti, "pot" dalam bahasa Arab. Drum terbuat dari panci dapur umum dengan kulit kambing membentang di atasnya. menikah atau masyarakat, atau untuk menyerahkan diri kepada Allah. Tujuan dari ritual ini adalah untuk melayani sebagai berkat bagi teman atau orang yang menikah atau masyarakat, atau untuk menyerahkan diri kepada Allah. Di negara ini ada tarian disebut ahouache. Ini adalah tarian mana gadis-gadis berbaris dalam lingkaran dan bernyanyi dan menari untuk drum.

PAKAIAN ADAT

Beragam pakaian adat yang ada di Negara Maroko. Pakaian tradisional untuk laki-laki dan perempuan disebut jellaba , sebuah, panjang longgar, berkerudung garmen dengan lengan penuh. Untuk acara-acara khusus, pria juga memakai topi merah disebut bernousse, lebih sering disebut sebagai Fez . Wanita mengenakan kaftan dihiasi dengan ornamen. Hampir semua pria dan wanita kebanyakan memakai balgha yaitu sandal kulit yang lembut tanpa tumit, sering dicelup kuning. Perempuan juga memakai hak tinggi sandal , sering dengan perak atau emas perada . Perbedaan antara jellaba dan kaftan adalah bahwa jellaba memiliki hood , sementara kaftan yang tidak. djellabas Kebanyakan wanita adalah berwarna cerah dan memiliki pola hiasan, jahitan, atau manik-manik, sementara djellabas pria biasanya lebih jelas dan berwarna netral.

BANGUNAN BERSEJARAH

Banyak bangunan bersejarah di negara Maroko, diantaranya Masjid Hassan dan Tower di Rabat salah satu situs sejarah yang paling penting di Maroko. Lalu ada Tin Mal Masjid. Ini adalah tujuan wisata populer dan sekitar 57 kilometer (36 mil) selatan dari Marrakesh. Kemudian ada Grand Kutubiyya Masjid adalah suatu maha karya rekayasa dan arsitektur dan salah satu gedung terbaik di Maroko. Itu juga merupakan masjid terbesar di Marrakesh. Kemudian ada Bou Inania, adalah baik masjid, sebuah madrasah Islam dan halaman yang luas. Ini bangunan yang sangat baik dibangun oleh Sultan Abu Inan antara 1351 dan 1356. Hampir pernah bagian dan inci dari Bou Inania telah rumit dihiasi dengan pintu dan jendela yang mengesankan, kayu melengkung, semen halus, script dan zelliges.


System politik maroko
Maroko merupakan kerajaan konstitusional dengan parlemen yang dipilih oleh rakyat dalam sebuah pemilihan umum. Raja Maroko dengan kekuasaan eksekutif dapat membubarkan pemerintah dan mengerahkan pasukan militer. Partai oposisi dibenarkan secara hukum, dan beberapa di antaranya berdiri dalam beberapa tahun terakhir.
Sistem politik Maroko berada dalam kerangka kerja parlementer kerajaan konstitusional, dimana Perdana Menteri menjadi kepala pemerintahan yang dibentuk oleh sejumlah partai (multi-partai). Kekuasaan eksekutif dimiliki oleh pemerintah. Sementara kekuasaan legislatif dibagi bersama antara Pemerintah dan dua kamar di parlemen, yakni Dewan Perwakilan Rakyat Maroko dan Dewan Konsuler.
Hal lain yang penting dalam sistem politik Maroko adalah penegasan yang ada di dalam Konstitusi Maroko bahwa Maroko adalah sebuah Kerajaaan dengan Parlemen dan Pengadilan yang independen.
Konstitusi memberikan kekuasaan yang besar kepada Raja. Di sisi lain Raja juga memiliki dua tugas penting, sebagai pemimpin politik sekuler dan Pemimpin Keyakinan sebagai keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW.
Raja memimpin Dewan Menteri dan menunjuk Perdana Menteri mengikuti hasil pemilihan legislatif. Dengan rekomendasi Perdana Menteri, Raja menunjuk anggota pemerintahan atau kabinet.
Di dalam Konstitusi juga disebutkan bahwa Raja dapat memberhentikan menteri kapan saja. Juga disebutkan bahwa Raja dapat membubarkan Parlemen setelah melakukan konsultasi dengan pimpinan kedua kamar di Parlemen, menunda Konstitusi, menggelar pemilihan umum baru, atau menerbitkan dekrit. Namun hal itu baru sekali terjadi, yakni pada tahun 1965.
Raja juga bertindak sebagai panglima tertinggi Angkatan Bersenjata.
Raja Hassan II berkuasa menggantikan ayahnya yang meninggal pada tahun 1961. Setelah memerintah Maroko selama 38 tahun, Raja Hassan meninggal dunia di tahun 1999. Kekuasaannya pun dilanjutkan oleh Raja Muhammad V yang disumpah pada bulan Juli 1999.
Dalam pemilihan umum yang digelar tahun 1998, pemerintahan koalisi dipimpin Abderrahmane Youssoufi yang merupakan ketua kubu oposisi sosialis. Kabinet yang dibentuknya pun terdiri dari mayoritas anggota partai oposisi.
Pemerintahan Youssoufi' adalah pemerintahan pertama di Maroko yang diisi oleh tokoh-tokoh oposisi dan juga merupakan pemerintahan pertama yang dibentuk dari koalisi sosialis, kelompok kiri-tengah, dan nasionalis, dan dilibatkan dalam pemerintahan sampai Oktober 2002.
Itu juga merupakan pertama kalinya dalam sistem politik Arab modern dimana kelompok oposisi dapat memimpin.

Ekonomi
Maroko merupakan salah satu Negara dunia ketiga yang sedang membangun. Penjajahan Spanyol dan Perancis telah melumpuhkan sendi perekonomian setempat, sehingga pemerintahan Maroko, setelah terbebas dari penjajahan, harus berjuang dan menyusun strategi pembangunan guna meningkatkan tarap hidup masyarakat yang relatif rendah kala itu. Maka dibuatlah suatu perencanaan yang menitikberatkan pada sektor peranian. Hal ini mengingat Maroko memiliki tanah yang subur, di samping sistem ini paling tepat untuk perekonomian rakyat yang hidup dengan cara tradisional. Strategi ini ternyata ampuh untuk memperbaiki perekonomian Maroko, sebagaimana terlihat jelas dengan tingginya tingkat ekspor hasil pertanian Maroko ke berbagai Negara eropa dan timur tengah. Di samping itu, peran sektor perikanan juga tidak dapat disisihkan dalam menambah devisa Negara, mengingat sebagian besar wilayah Maroko berada di pantai Samudera Atlantik dan laut tengah.
Dalam sektor wisata pun Maroko boleh dikatakan unggul. Ini terbukti dengan banyaknya obyek wisata yang menarik minat pelancong dari Eropa, Asia maupun benua lainya. Di antara objek wisata tersebut adalah pantai indah yang berada di pinggiran kota-kota pesisir seperti: pantai pelaya di Tanger, pantai Ashila, pantai Mehdia di Kenitra, pantai Agadir yang dikenal dengan penjara di tengah lautnya, dan banyak menyimpan kesan di benak para pelancong dengan fasilitas kafe dan restoran di pinggir pantai serta fasilitas lainnya. Di samping itu ada juga obyek wisata air terjun yang ada di Sopro, Fes dan Khribga. Serta sumber air panas ainullah, fes. Obyek wisata lain yang terdapat di kota Fes ataupun di Jami’ Alfena di Marrakech.
Demikian pula tempat-tempat yang bernilai sejarah seperti Goa Hercules di Tanger, Penjara Portugis di Safi, Jami Quaraouyine (baca: qarawiyyin) di Fes. Volubilis versi nama Itali dan Walili versi nama Maroko, terletak di sebelah utara kota Meknes, sebagai kota bersejarah peninggalan Pemerintahan Romawi Kuno di Maroko, Volubilis tetap terjaga keaslian dan kekunoannya. Dan benteng-benteng kokoh bercat merah kekuningan yang dapat disaksikan di setiap kota di Maroko. Begitu juga perkampungan unik yang menyimpang nyanyian gurun sahara di Ouarzazat, sebelah selatan kota Marrakech.
Dari sejumlah obyek wisata yang terdapat di Maroko, tidak dapat dilupakan sebuah warisan yang paling dibanggakan yang dibangun di zaman raja Hasan II, yaitu mesjid hasan II yang terletak di kota casablanca. Mesjid ini memiliki bangun megah, bahkan termegah ketiga di dunia setelah haramain (masjidil haram dan masjid nabawai), dan dapat menampung lebih kurang 100.000 jamaah serta selalu dipakai untuk acara keagamaan kerajaan, seperti peringatan Maulid Nabi.
Dalam sektor industri, Maroko juga dikenal sebagai negara penghasil fosfat terbesar di dunia. Pabrik fosfat yang berada di kota Shafi merupakan penopangan terpenting ekonomi negara setelah pertanian. Juga tidak dapat dilupakan, keberadaan pelabuhan-pelabuhan laut internasional yang berada di beberapa kota pesisir
seperti Safi, Tanger, Mohammedia dan Casablanca yang telah banyak menyumbangkan devisa bagi Maroko. Bahkan boleh dikatakan, pelabuhan kapal casablanca merupakan yang terbesar di wilayah Afrika Utara. Menurut statistik ekonomi Maroko tahun 1999, Maroko telah memililki income perkapita sebesar US$ 1300. dan di bawah pemerintahan raja mohammad VI yang naik tahta yang cukup berarti. Hal ini terbukt dari berbagai proyek dan perencanaan pembangunan yang dicanangkan pemerintahan dengan berbagai negara yang tergabung dalam Uni Eropa.
social Masyarakat Maroko dikenal sebagai masyarakat yang familiar dan bersahabat. Hal ini nampak jelas kita melihat sambutan hangat yang diterima para pendatang asing di negara ini, terutama yang datang dari negara-negara Islam. Boleh jadi, suasana kekeluargaan yang diperhatikan masyarakat Maroko tersebut, merupakan pengaruh dari nilai-nilai yang telah ada sejak lama di kalangan penduduk Maroko.
Masyarakat Maroko sangat kuat memegang teguh adat istiadat dan nilai-nilai pergaulan serta kehidupan yang ditanamkan nenek moyang mereka. Sehingga, walaupun perngaruh globalisasi telah mengimbas berbagai aspek kehidupan, hal-hal yang berbau tradisi dan adat tetap terjaga. Misalnya berkorban pada hari raya Idul Adha, keluar rumah dengan pakaian tradisional yang indah pada malam ke-27 Bulan Ramadan, puasa pada hari Maulid Nabi dan Isra Mi’raj, menyiram air pada asyura’ dan tadarusan al-quran sehabis shalat subuh dan maghrib di mesjid-mesjid di Maroko.